Rabu, 23 Mei 2012

Sistem Kepercayaan Suku Sunda

Sunda Wiwitan
Pada proses perkembangan agama Islam, tidak seluruh wilayah tatar Sunda menerima sepenuhnya, di beberapa tempat terdapat komunitas yang bertahan dalam ajaran leluhurnya seperti komunitas masyarakat di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak yang dikenal dengan masyarakat Baduy. Mereka adalah komunitas yang tidak mau memeluk Islam dan terkungkung di satu wilayah religius yang khas; terpisah dari komunitas Muslim Sunda dan tetap melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan.

Dasar religi masyarakat Baduy dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang bersifat monoteis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan kepercayaan kepada satu kekuasaan yakni Sanghyang Keresa (Yang Maha Kuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib) yang bersemayam di Buana Nyungcung (Buana Atas). Orientasi, konsep, dan pengamalan keagamaan ditujukan kepada pikukuh untuk menyejahterakan kehidupan di jagat mahpar (dunia ramai). Pada dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal memiliki keturunan tujuh orang batara yang dikirimkan ke dunia melalui Kabuyutan; titik awal bumi Sasaka Pusaka Buana. Konsep buana bagi orang Baduy berkaitan dengan titik awal perjalanan dan tempat akhir kehidupan. (Garna, 1992:5).

Menurut ajaran Sunda Wiwitan, perjalanan hidup manusia tidak terpisah dari wadah tiga buana, yaitu (1) Buana Nyungcung sama dengan Buana Luhur atau Ambu Luhur; tempat bersemayam Sang Hyang Keresa di tempat paling atas; (2) Buana Panca Tengah atau Ambu Tengah yang dalam dunia pewayangan sering disebut Mayapada atau Arcapada tempat hidup manusia dan mahluk lainnya; dan (3) Buana Larang sama dengan Buana Handap atau Ambu handap yaitu tempatnya neraka. Manusia yang hidup di Buana Panca Tengah suatu saat akan menemui Buana Akhir yaitu Buana Larang, sedangkan proses kelahirannya ditentukan di Buana Luhur. Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapisan alam yang tersusun dari atas ke bawah, lapisan teratas disebut Bumi Suci Alam Padang atau Kahyangan tempat Sunan Ambu dan para pohaci bersemayam.

Pada pelaksanaan ajaran Sunda Wiwitan di Kanekes, tradisi religius diwujudkan dalam berbagai upacara yang pada dasarnya memiliki empat tujuan utama: yaitu (1) menghormati para karuhun atau nenek moyang; (2) menyucikan Pancer Bumi atau isi jagat dan dunia pada umumnya; (3) menghormati dan menumbuhkan atau mengawinkan Dewi Padi; dan (4) melaksanakan pikukuh Baduy untuk mensejahterakan inti jagat. Dengan demikian, mantra-mantra yang diucapkan sebelum dan selama upacara berisikan permohonan izin dan keselamatan atas perkenan karuhun, menghindari marabahaya, serta perlindungan untuk kesejahteraan hidup di dunia damai sejahtera.

Masuknya agama Islam ke tatar Sunda menyebabkan terpisahnya komunitas penganut ajaran Sunda Wiwitan yang taat dengan mereka yang menganut Islam. Masyarakat penganut Sunda Wiwitan memisahkan diri dalam komunitas yang khas di pedalaman Kanekes ketika agama Islam memasuki kerajaan Pakuan Pajajaran. Hal ini dapat ditemukan dalam cerita Budak Buncireung, Dewa Kaladri, dan pantun Bogor versi Aki Buyut Baju Rambeng dalam lakon Pajajaran Seureun Papan.

Secara sadar, masyarakat Kanekes dengan tegas mengakui perbedaan mereka dengan masyarakat Sunda lainnya di luar Kanekes hanyalah dalam sistem religi, bukan etnis. Menurut Djatisunda (1992;2-3) mereka menyebut orang Sunda di luar Kanekes dengan sebutan Sunda Eslam (orang Sunda yang beragama Islam) dan dianggap sebagai urang Are atau dulur are. Arti dari istilah urang are atau dulur are dikemukakan Ayah Kaiti bekas seurat Tangtu Cikeusik bahwa: harti urang are ta, ja dulur are. Dulur-dulur na mah, ngan eslam hanteu sabagi kami di dieu (arti urang are yaitu dulur are. Saudara sih saudara, tetapi menganut agama Islam tidak seperti saya di sini). Ungkapan tersebut memperjelas pengakuan kedudukan etnis masyarakat Kanekes sebagai suku bangsa Sunda yang membedakannya hanyalah sistem religi karena tidak menganut agama Islam.


Madrais dan aliran perjalanan
Berbeda dengan masyarakat Baduy yang bertahan dengan tradisinya akibat desakan pengaruh Islam, perjumpaan Islam dengan budaya Sunda dalam komunitas lain malah melahirkan kepercayaan baru seperti yang dikembangkan Madrais di Cigugur Kabupaten Kuningan dan Mei Kartawinata di Ciparay Kabupaten Bandung.

Madrais semula dibesarkan dalam tradisi Islam kemudian melahirkan ajaran baru yang mengajarkan faham Islam dengan kepercayaan lama (pra-Islam) masyarakat Sunda yang agraris dan disebutnya sebagai Ajaran Djawa Sunda atau Madraisme pada tahun 1921. Ia menetapkan tanggal 1 Sura sebagai hari besar seren taun yang dirayakan secara besar-besaran antara lain dengan ngagondang (menumbukkan alu pada lesung sambil bernyanyi). Menurut ajarannya, Dewi Sri atau Sanghyang Sri adalah Dewi Padi yang perlu dihormati dengan upacara-upacara religius daur ulang penanaman padi serta ajaran budi pekerti dengan mengolah hawa nafsu agar hidup selamat. Di pihak lain, ia pun memuliakan Maulid Nabi Muhammad, tetapi menolak Alquran dengan anggapan bahwa Alquran yang sekarang tidak sah sebab Alquran yang sejati akan diturunkan menjelang kiamat.

Ajaran Madraisme ini, setelah Madrais meninggal dunia tahun 1939 dilanjutkan anaknya bernama Pangeran Tejabuana, serta cucunya Pangeran Jati Kusumah yang 11 Juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU) mengharuskan para pengikutnya untuk melestarikan ajaran karuhun Sunda dan ke luar dari agama Islam.

Sementara itu, Mei Kartawinata (1898-1967) seorang tokoh kebatinan mendirikan aliran kepercayaan perjalanan yang dikenal dengan "Agama Kuring" (Agamaku) dan pendiri Partai Permai di Ciparay Kabupaten Bandung. Kisahnya, 17 September 1927, di Subang ia mendapat wangsit untuk berjuang melalui pendidikan, kerohanian, dan pengobatan melalui perkumpulan Perjalanan yang mengibaratkan hidup manusia seperti air dalam perjalanannya menuju laut dan bermanfaat sepanjang jalan. Dia menulis buku "Budi Daya" tahun 1935 yang dijadikan 'kitab suci' oleh para pengikutnya. Ajaran ini memadukan sinkretisme antara ajaran Sunda Wiwitan, Hindu, Budha, dan Islam.

4 komentar:

  1. sampurasun....info di atas menunjukan pengikut setia agama karuhun memang tidak begitu banyak, tapi hampir di setiap tatar pulau jawa pasti ada,tapi kalau dibandingkan dengan jumlah pemeluk agama baru jauh pisan kacida. menurut saya itu yang mengakibatkan kondisi negara kita acak acakan terutama dari moral dan ahlak..karena negara kita setelah hancurna pajajaran diteruskan oleh generasi pengikut agama baru yang motivasinya hanya menggadaikan jati diri sunda demi merebut tahta yang bukan haknya. gennerasi baru berasal dari keturunan yang notabene pada waktu itu lahir dari darah para penghianat keimanan agama karuhun, maka keturunan yang dominan sekarang berahlak penghianat, seperti koruptor, persaiangan tidak sehat, kolusi dan nepotisme persis nenek moyangnya yang penghianat.

    BalasHapus
  2. Saya termasuk orang kurang 'panuju' dengan pendapat yang menuding mundurnya eksistensi urang Sunda akibat masuknya agama impor (mungkin maksudnya Islam). Saya sendiri bangga menjadi orang Sunda sekaligus menjadi seorang muslim. Belakangan saya menyadari bahwa monotheisme karuhun Sunda menjadi benang merah mudahnya Islam yang juga monotheis diterima di kebanyakan urang Sunda. Menyalahkan Islam sebagai biang kerok mundurnya peradaban urang Sunda sungguh sulit diterima. Sebagai seorang muslim, saya mencari cari kemurnian agama ini. Yang saya temukan adalah kemuliaan yang jauh dari ajaran untuk menyakiti dan mengkorupsi kekuasaan. Ajaran ini juga yang saya temukan dalam sejarah urang Sunda ketika Bunisora memulihkan Kerajaan Sunda Galuh dari luka luka akibat perang Bubat. Jadi dari sudut ajaran saya tidak melihat sesuatu yang patut dipertentangkan dari keduanya. Dua duanya membangun identitas urang Sunda. Saya melihat kemunduran urang Sunda sekarang dari lemahnya pemahaman akan sejaran karuhun dan malasnya memahami kedalaman Islam. Ketidak hormatan kepada karuhun menyebabkan kita tidak lagi mempunyai harga diri dan kehormatan sebagai orang Sunda. Pemahaman yang dangkal akan Islam menjadikan kita mengedepankan permusuhan. Maaf bila seperti menggurui. Rahayu salawasna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya pak, kalo kita bicara soal agama dan kebudayaan (perdaban etnis sunda) keduanya sebenarnya "saling bertentangan," karena masing-masing memiliki ajaran dan sistem kepercayaannya. agama apapun pasti memiliki sistem kepercayaan, baik islam, kristen, budha, hindu, dan katolik, dll. jadi.. mungkin yang dimaksud oleh penulis artikel diatas sedikit ada benarnya.. agama memiliki sistem yang berbeda dengan kebudayaan setempat, yang pada akhirnya ketika agama itu masuk, pasti paling tidak ada sistem yang berubah sehingga sedikit demi sedikit ada beberapa bagian dari sistem semula hilang, bisa jadi dihilangkan sejak masuknya agama, karena tidak sama atau berbenturan dengan sistem agama yang masuk. memang bukan hal yang mudah dalam berdialog agama dan kebudayaan, keduanya saling terkait tetapi banyak benturan. kalo bisa ya ketika membicarakan kebudayaan sebaiknya jangan dikaitkan dengan kebudayaan. kalo memang tetap mau menjaga kebudayaan yang ada (dimanapun tidak hanya di sunda) sebaiknya jangan ada sentuhan agama baru.

      Hapus
  3. #kalo bisa ya ketika membicarakan kebudayaan sebaiknya jangan dikaitkan dengan agama. kalo memang tetap mau menjaga kebudayaan yang ada (dimanapun tidak hanya di sunda) sebaiknya jangan ada sentuhan agama baru.

    BalasHapus